Le coup de foudre
Saturday, September 24, 2005
Ma chérie
Le coup de foudre nous attrape
La langue d'amour nous frappe
Quand la route est maladroite
Ma chérie
Notre passé est allée sans retour
Meilleure future nous entoure
Quand mon nom devenant une tour
Ma chérie
Les yeux proposent la sincère
Les coeurs sont précairs
Quand le sentiment a envie un plein air
Le coup de foudre nous attrape
La langue d'amour nous frappe
Quand la route est maladroite
Ma chérie
Notre passé est allée sans retour
Meilleure future nous entoure
Quand mon nom devenant une tour
Ma chérie
Les yeux proposent la sincère
Les coeurs sont précairs
Quand le sentiment a envie un plein air
Make a comment Permalink
Setahun sudah...
Saturday, September 17, 2005
Setahun sudah aku menjejak bumi mimpi
Tanah seberang mataku yang berseri
Bersama kabut dingin pagi
Tangis haru dalam puji
Setahun sudah aku menemukan saudara
Sehati senasib lebih dari sebunda
Menangis tertawa luka bersama
Berjalan di atas samsara
Setahun sudah aku hidup merindu
Kerinduanku akan kebesaran bangsaku
Tarian indah di benakku
Nyanyi ceria di kalbuku
Setahun sudah aku menjadi ananda
Di rumah perempuan berikat kepala
Dalam canda bebas, setara dan bersaudara
Menawarkanku cakrawala cinta
Setahun sudah aku menjadi abdi ilmu
Ratus ribu lembar pengetahuan merayuku
Temani tidur dan hariku
Senyum manis cita di balik langit biru
Setahun sudah aku menjadi dewasa
Menentukan langkah kakiku kemana
Bergerak dengan asa dan doa
Takdzim guru dan tetua
Tanah seberang mataku yang berseri
Bersama kabut dingin pagi
Tangis haru dalam puji
Setahun sudah aku menemukan saudara
Sehati senasib lebih dari sebunda
Menangis tertawa luka bersama
Berjalan di atas samsara
Setahun sudah aku hidup merindu
Kerinduanku akan kebesaran bangsaku
Tarian indah di benakku
Nyanyi ceria di kalbuku
Setahun sudah aku menjadi ananda
Di rumah perempuan berikat kepala
Dalam canda bebas, setara dan bersaudara
Menawarkanku cakrawala cinta
Setahun sudah aku menjadi abdi ilmu
Ratus ribu lembar pengetahuan merayuku
Temani tidur dan hariku
Senyum manis cita di balik langit biru
Setahun sudah aku menjadi dewasa
Menentukan langkah kakiku kemana
Bergerak dengan asa dan doa
Takdzim guru dan tetua
Comments (2) Permalink
Revolusi Industri : Sang perubah (learning from a game)
Sunday, August 14, 2005

Beberapa minggu ini, selain menyelesaikan proposal penelitian doktoralku, aku juga sibuk main game « Empires: L’aube d’un monde nouveau ». Dari game ini, aku bisa menarik pelajaran, kenapa satu negara bisa menjadi adidaya, dan yang lain hanya bisa sekedar menjadi penonton di pinggiran sejarah.
Dari game ini, aku mendapatkan pembagian aktivitas ekonomi antara wilayah-wilayah geografis yang berbeda. Aku melihat bahwa kita tidak dapat menemukan seluruh aktivitas ekonomi di setiap wilayah atau kawasan. Pembagian aktivitas ekonomi ini karena setidaknya dua alasan. Pertama, karena sumber daya alam dan karakteristik klimatik, Semisal dalam game ini, kita bisa menjumpai suatu negara yang mengandalkan industri kelautan dan perikanan, sedangkan yang lain dari hasil hutan, dan yang lainnya dari pertambangan. Kedua, karena tingkat pembangunan ekonominya.
Sampai akhir abad XVIII, pembagian aktivitas ekonomi di dunia cenderung seimbang. Tingkat pembangunan hampir tidak beda jauh di mana pun.
Namun, setelah revolusi industri, dunia menjadi terbagi. Dalam fase yang cukup, Inggris Raya menjadi buaian dari revolusi ini. Kerajaan Inggris telah berubah menjadi pabrik dunia. Pax Britanica bertahan sampai Perang Dunia II. Revolusi industri pertama, dapat dijadikan tolak ukur dimulainya pembagian antara belahan dunia yang kaya dan belahan bumi yang lain yang miskin. Revolusi industri kedua, terjadi pada pertengahan atau akhir abad XIX di Eropa dan Amerika Serikat. Revolusi industri ketiga, terjadi pada abad XX sampai tahun 1940 an.
Dalam game ini, tampak begitu jelas bagaimana Amerika dan Inggris relatif begitu mudah mengolah barang tambangnya. Dalam game ini, pengolahan tambang di Inggris sudah dilakukan secara dan dalam skala industrial. Dan dengan hasil tambang olahan ini, mereka bisa cepat menumpuk kapital dan kemudian membangun industri militer mereka. Kekuatan militer ini, membantu mereka untuk menguasai dunia.
Beda dengan Inggris dan Amerika, Perancis dalam game ini, memang belum bisa mengolah tambang secara canggih, namun mereka mampu merampas tambang dan memiskinkan daerah koloninya. Kemampuan ini juga didukung oleh kemampuan saboteur. Komplit sudah!
Kalau dipikir-pikir sih sepertinya memang begitu. Coba kita lihat deh, negara-negara bekas jajahan Perancis, hampir dapat dikata semuanya miskin dan tertinggal. Di Senegal, Côte d’Ivoire, Mali, dan negara-negara Afrika lainnya yang kaya, namun tidak pernah ada bangunan menakjubkan seperti menara Eiffel atau bangunan semegah Chateau de Versailles. Bahkan negara-negara ini, sampai sekarang berdasarkan data PBB, dikategorikan sebagai negara-negara terbelakang.
Namun, pembagian dunia ini tidaklah tetap. Pembagian ini bergerak, ber-evolusi. Kegiatan-kegiatan indutrial dan ekonomi berpindah. Semisal, selama beberapa saat, indutri textile Inggris merupakan industri terpenting di dunia, namun aktivitas ini telah berpindah ke Cina dan India. Contoh yang lain, industri baja dulu berasal dari Perancis, dengan contoh nyata berupa la Tour Eiffel yang menggunakan baja kualitas nomor satu yang pernah ada di dunia. Namun sekarang, industri baja telah relokasi menuju Cina dan Brazil. Kemudian, pada saat pembuatan Eiffel tersebut, (industri) baja dipertimbangkan sebagai sumber dari kekuasaan dan penjamin kedaulatan. Namun saat ini, hal ini telah diambil alih oleh industri high technology. Lalu, contoh yang paling nyata berikutnya adalah relokasi industri automobile menuju negara-negara berkembang. Korea Selatan merupakan contoh paling nyata dalam hal ini.
Dari game ini, aku belajar bahwa kemenangan suatu bangsa dalam game ini, adalah tergantung pada kecepatan bangsa tersebut melakukan melakukan revolusi industri, up grade tingkat pengetahuan dan teknologi. Bangsa-bangsa yang kalah, karena mereka « telat » melakukan revolusi industri dan lebih disibukkan oleh instabilitas politik dalam negeri dan luar negerinya. Sayangnya atau sialnya, kehidupan nyata ini tidak seperti game, di mana kita bisa men-save file kemenangan kita dan men-delete file kekalahan kita.
Make a comment Permalink
Obrolan pada suatu sore II
Wednesday, August 10, 2005
Ngobrol lagi
Ada banyak alasan mengapa CER mendekati ASEAN?
Pertama, karena faktor jumlah penduduk ASEAN yang cukup besar dan diiringi dengan perbaikan kemampuan daya beli. Jumlah penduduk yang besar ini, merupakan suatu potensi pasar tersendiri untuk produk-produk CER, yang mengandalkan produk-produk agriculture. Khususnya, food agriculture.
Kedua, dengan terciptanya FTA dengan sistem PTA, CER dapat mengimbangi kekuatan besar agriculture yang lain, semisal EU dan USA. Patut diingat, EU dan USA memberikan subsidi yang besar pada sektor pertaniannya, bahkan EU memberikan subsidi mencapai 60%. Jika "ditarungkan secara bebas", maka kekuatan agriculture CER dapat dikatakan kalah bersaing, khususnya di pasar di negara-negara berkembang. PTA menyediakan perlakuan khusus bagi CER terhadap ASEAN, dan ini artinya menaikkan posisi tawar atau keunggulan komparatif produk-produk agriculture CER di ASEAN.
Ketiga, FTA yang dilakukan CER yang diimbangi pressure di WTO terhadap kebijakan agriculture EU dan USA, secara perlahan dan pasti akan memberikan peluang terhadap reformasi kebijakan WTO masalah subsidi agriculture.
Keempat, RTA diciptakan sebagai pelengkap aturan kebijakan dan "pola permainan" yang adil dan seimbang di WTO.
Masalah standarisasi yang dilakukan oleh CER terhadap produk-produk impor agriculture didasarkan pada scientific evidence semisal alasan kesehatan dan sanitary, walaupun standarisasi ini dapat dikatakan sulit dicapai oleh negara-negara berkembang yang menjadi partner dagang CER, termaasuk ASEAN. Namun di lain hal, standarisasi ini dapat dipenuhi dengan mudah oleh negara-negara maju, seperti EU dan USA, karena mereka juga memiliki standart yang relatif sama. Ini yang patut dicermati, jika ASEAN serius memberikan PTA kepada CER. Karena dalam relasi ini, CER akan lebih offensif terhadap ASEAN, dan ASEAN tidak memiliki kekuatan resistensi yang sama. Maka keuntungan, bisa jadi cuma searah. CER akan lebih menerima produk impor dari EU dan USA, sedangkan akan mengekspor produknya ke ASEAN.
Nah, dalam ini patut dipertimbangkan kembali posisi dan peran ASEAN dalam hal kerjasama dengan CER membentuk RTA.
Selanjutnya, di lain sisi, kebalikan dari CER, 3 partner dagang ASEAN di utara, merupakan negara-negara yang lebih mengandalkan pada produk-produk manufacture. Produk-produk manufacture yang dihasilkan oleh 3 negara ini didasari oleh kekuatan sumber daya manusia yang relatif unggul dibandingkan dengan ASEAN. Pertama, dari tingkat pendidikan para pekerja di begara-negara ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di ASEAN. Sehingga, menjadi wajar upah buruh di negara-negara ini relatif lebih tinggi, karena adanya semacam garansi bahwa produk-produk yang dihasilkan merupakan produk unggulan. Jika dibandingkan dengan ASEAN, spesifik dengan Indonesia, dimana mayoritas pekerja adalah lulusan SD, tentu saja kita tidak dapat berharap besar dari upah buruh yang tinggi. Apa yang bisa kita "jual" dalam kerjasama ASEAN+5 ini hanyalah buruh dengan upah rendah!
Secara singkat kita bisa melihat kalau istilahnya sandang dengan Northeast Asia sedangkan pangan dengan CER. Selanjutnya....(bersambung)
Ada banyak alasan mengapa CER mendekati ASEAN?
Pertama, karena faktor jumlah penduduk ASEAN yang cukup besar dan diiringi dengan perbaikan kemampuan daya beli. Jumlah penduduk yang besar ini, merupakan suatu potensi pasar tersendiri untuk produk-produk CER, yang mengandalkan produk-produk agriculture. Khususnya, food agriculture.
Kedua, dengan terciptanya FTA dengan sistem PTA, CER dapat mengimbangi kekuatan besar agriculture yang lain, semisal EU dan USA. Patut diingat, EU dan USA memberikan subsidi yang besar pada sektor pertaniannya, bahkan EU memberikan subsidi mencapai 60%. Jika "ditarungkan secara bebas", maka kekuatan agriculture CER dapat dikatakan kalah bersaing, khususnya di pasar di negara-negara berkembang. PTA menyediakan perlakuan khusus bagi CER terhadap ASEAN, dan ini artinya menaikkan posisi tawar atau keunggulan komparatif produk-produk agriculture CER di ASEAN.
Ketiga, FTA yang dilakukan CER yang diimbangi pressure di WTO terhadap kebijakan agriculture EU dan USA, secara perlahan dan pasti akan memberikan peluang terhadap reformasi kebijakan WTO masalah subsidi agriculture.
Keempat, RTA diciptakan sebagai pelengkap aturan kebijakan dan "pola permainan" yang adil dan seimbang di WTO.
Masalah standarisasi yang dilakukan oleh CER terhadap produk-produk impor agriculture didasarkan pada scientific evidence semisal alasan kesehatan dan sanitary, walaupun standarisasi ini dapat dikatakan sulit dicapai oleh negara-negara berkembang yang menjadi partner dagang CER, termaasuk ASEAN. Namun di lain hal, standarisasi ini dapat dipenuhi dengan mudah oleh negara-negara maju, seperti EU dan USA, karena mereka juga memiliki standart yang relatif sama. Ini yang patut dicermati, jika ASEAN serius memberikan PTA kepada CER. Karena dalam relasi ini, CER akan lebih offensif terhadap ASEAN, dan ASEAN tidak memiliki kekuatan resistensi yang sama. Maka keuntungan, bisa jadi cuma searah. CER akan lebih menerima produk impor dari EU dan USA, sedangkan akan mengekspor produknya ke ASEAN.
Nah, dalam ini patut dipertimbangkan kembali posisi dan peran ASEAN dalam hal kerjasama dengan CER membentuk RTA.
Selanjutnya, di lain sisi, kebalikan dari CER, 3 partner dagang ASEAN di utara, merupakan negara-negara yang lebih mengandalkan pada produk-produk manufacture. Produk-produk manufacture yang dihasilkan oleh 3 negara ini didasari oleh kekuatan sumber daya manusia yang relatif unggul dibandingkan dengan ASEAN. Pertama, dari tingkat pendidikan para pekerja di begara-negara ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di ASEAN. Sehingga, menjadi wajar upah buruh di negara-negara ini relatif lebih tinggi, karena adanya semacam garansi bahwa produk-produk yang dihasilkan merupakan produk unggulan. Jika dibandingkan dengan ASEAN, spesifik dengan Indonesia, dimana mayoritas pekerja adalah lulusan SD, tentu saja kita tidak dapat berharap besar dari upah buruh yang tinggi. Apa yang bisa kita "jual" dalam kerjasama ASEAN+5 ini hanyalah buruh dengan upah rendah!
Secara singkat kita bisa melihat kalau istilahnya sandang dengan Northeast Asia sedangkan pangan dengan CER. Selanjutnya....(bersambung)
Make a comment Permalink
Sudahlah
Wednesday, August 10, 2005
Sudahlah...
Comment (1) Permalink
Tolak ukur kekayaan
Tuesday, June 21, 2005
Alhamdulillah, aku akhirnya bisa melewati soutenance dengan baik.
Berkat doa semua orang yang perhatian dan sayang pada diriku.
Posted at 01:18 am by syaltout
Comments (4) Permalink
Posted at 12:05 pm by syaltout
Comments (3) Permalink
Posted at 12:43 pm by syaltout
Make a comment Permalink
Posted at 01:07 pm by syaltout
Make a comment Permalink
Berkat doa semua orang yang perhatian dan sayang pada diriku.
Namun, bukan ini yang ingin kubahas.
Alhamdulillah, saat aku soutenance ada dua orang yang baik hati yang mau membantuku menyumbang makanan Indonesia, untuk aku makan bersama kawan-kawan dan para professeur setelah ujian.
Budiman yang baik hati pertama, sebut aja Bu Tituk (bukan nama sebenarnya), ternyata adalah istri seorang dari tukang kebun dan penyapu Wisma Duta, KBRI Prancis! Budiman yang baik kedua, sebut saja Bu Eva (bukan nama sebenarnya), seorang penjaga kantin KBRI Prancis. Bu Tituk dan Bu Eva ini terkenal sangat dermawan dan budiman. Beliau-beliau ini juga yang sering memberikan sumbangan dalam acara-acara PPI Prancis.
Aku menangis saat membayangkan budi beliau-beliau. Kemudian, tangisku lebih keras saat ada salah seorang diplomat di KBRI Prancis yang pernah menyumbang 5 Euros ke PPI Prancis, tapi minta kwitansi, dan diomongkan ke banyak orang!
Ya Allah, aku benar-benar tersadar, bahwa kekayaan memang letaknya di hati dan perasaan merasa cukup. Aku menangis saat aku mengetahuinya.
Aku juga menangis sejadi-jadinya, saat aku ingat kembali, bahwa pada saat penguburan adek Anisa (yang dibawa ayahnya dalam KRL), yang memberikan sumbangan bukanlah dokter atau perawatnya, yang secara kasat mata memiliki penghasilan yang cukup. Tapi penjual teh botol, teman ayahnya yang sesama pemulung. Kemanakah hati para Pak Haji dan Bu Haji saat melihat kejadian ini? Ya Allah, apakah memang kedermawanan sebagai suatu tanda kekayaan, hilang dari mereka yang memiliki harta?
Ya Allah, ijinkan aku untuk menjadi kaya lahir dan bathin.
Ijinkan aku untuk banyak belajar tentang keikhlasan dan ketulusan hati dari mereka yang disebut "jelata".
Karena kuyakin kekayaan sejati...
Tetap bersemayam dalam singgasananya bernama "hati"!
Alhamdulillah, saat aku soutenance ada dua orang yang baik hati yang mau membantuku menyumbang makanan Indonesia, untuk aku makan bersama kawan-kawan dan para professeur setelah ujian.
Budiman yang baik hati pertama, sebut aja Bu Tituk (bukan nama sebenarnya), ternyata adalah istri seorang dari tukang kebun dan penyapu Wisma Duta, KBRI Prancis! Budiman yang baik kedua, sebut saja Bu Eva (bukan nama sebenarnya), seorang penjaga kantin KBRI Prancis. Bu Tituk dan Bu Eva ini terkenal sangat dermawan dan budiman. Beliau-beliau ini juga yang sering memberikan sumbangan dalam acara-acara PPI Prancis.
Aku menangis saat membayangkan budi beliau-beliau. Kemudian, tangisku lebih keras saat ada salah seorang diplomat di KBRI Prancis yang pernah menyumbang 5 Euros ke PPI Prancis, tapi minta kwitansi, dan diomongkan ke banyak orang!
Ya Allah, aku benar-benar tersadar, bahwa kekayaan memang letaknya di hati dan perasaan merasa cukup. Aku menangis saat aku mengetahuinya.
Aku juga menangis sejadi-jadinya, saat aku ingat kembali, bahwa pada saat penguburan adek Anisa (yang dibawa ayahnya dalam KRL), yang memberikan sumbangan bukanlah dokter atau perawatnya, yang secara kasat mata memiliki penghasilan yang cukup. Tapi penjual teh botol, teman ayahnya yang sesama pemulung. Kemanakah hati para Pak Haji dan Bu Haji saat melihat kejadian ini? Ya Allah, apakah memang kedermawanan sebagai suatu tanda kekayaan, hilang dari mereka yang memiliki harta?
Ya Allah, ijinkan aku untuk menjadi kaya lahir dan bathin.
Ijinkan aku untuk banyak belajar tentang keikhlasan dan ketulusan hati dari mereka yang disebut "jelata".
Karena kuyakin kekayaan sejati...
Tetap bersemayam dalam singgasananya bernama "hati"!
Comments (4) Permalink
Melewati pertempuran
Monday, June 13, 2005
Duh Gusti...
Terima kasihku tak hingga
Bahkan syukurku ini pun harus kusyukuri
Pertempuran demi pertempuran telah kulewati
Duh Gusti...
Tubuhku yang robek terkoyak
Mata dan telingaku yang cacat terluka
Hati dan pikirku yang haus meradang terpecah
Duh Gusti...
Pertempuran demi pertempuran
Bertemankan sinar keajaiban dan cinta-Mu
Tanpanya, bagaimana kubisa naiki kuda sembraniku?
Duh Gusti...
Perang besar akan segera berakhir
Sepuluh hari sebelum kelahiran diriku kembali
Akankah saat itu aku akan berkalung bunga dan bermahkota?
Duh Gusti...
Kalamku sudah hampir habis tintanya
Lisanku sudah hampir tenggelam dalam sorak sorai
Prajurit dan para perwira sudah menunggu perintahku!
Duh Gusti...
Anugrahi kembaliku diriku kemenangan!
Aku tak mau ditaklukkan ksatria sungai gangga
Aku ingin lebih gemilang dari sang raja bertanduk tiga!
Duh Gusti...
Hilangkanlah kekuatan diriku yang lemah!
Gantikan dengan kekuatan-Mu yang lebih dahsyat!
Dan diriku pun bertiwikrama dalam gempita genggam semesta!
Duh Gusti...
Jadilah Engkau penglihatan bagi mataku yang buta
Jadilah Engkau pendengaran bagi telingaku yang pekak
Jadilah Engkau penerangan bagi hati dan pikirku yang kelam
Duh Gusti...
(Après tous les examens et avant la soutenance le 16 juin 2005: 9 mois précis en France)
Terima kasihku tak hingga
Bahkan syukurku ini pun harus kusyukuri
Pertempuran demi pertempuran telah kulewati
Duh Gusti...
Tubuhku yang robek terkoyak
Mata dan telingaku yang cacat terluka
Hati dan pikirku yang haus meradang terpecah
Duh Gusti...
Pertempuran demi pertempuran
Bertemankan sinar keajaiban dan cinta-Mu
Tanpanya, bagaimana kubisa naiki kuda sembraniku?
Duh Gusti...
Perang besar akan segera berakhir
Sepuluh hari sebelum kelahiran diriku kembali
Akankah saat itu aku akan berkalung bunga dan bermahkota?
Duh Gusti...
Kalamku sudah hampir habis tintanya
Lisanku sudah hampir tenggelam dalam sorak sorai
Prajurit dan para perwira sudah menunggu perintahku!
Duh Gusti...
Anugrahi kembaliku diriku kemenangan!
Aku tak mau ditaklukkan ksatria sungai gangga
Aku ingin lebih gemilang dari sang raja bertanduk tiga!
Duh Gusti...
Hilangkanlah kekuatan diriku yang lemah!
Gantikan dengan kekuatan-Mu yang lebih dahsyat!
Dan diriku pun bertiwikrama dalam gempita genggam semesta!
Duh Gusti...
Jadilah Engkau penglihatan bagi mataku yang buta
Jadilah Engkau pendengaran bagi telingaku yang pekak
Jadilah Engkau penerangan bagi hati dan pikirku yang kelam
Duh Gusti...
(Après tous les examens et avant la soutenance le 16 juin 2005: 9 mois précis en France)
Comments (3) Permalink
Dunia yang terbagi
Sunday, June 12, 2005
Kenapa kita hidup dalam dunia yang terbagi?
Utara yang kaya dan Selatan yang berduka
Maju dan terbelakang
Berkuasa dan menghamba
Apakah karena kodratnya memang terbagi?
Laksana terbaginya siang dan malam
Lelaki perempuan
Lengkung dan garis lurus
Zone géographie-kah yang membaginya?
Tiap wilayah punya nasibnya sendiri
Harta warisan untuk keturunannya
Kutukan yang terkadang jadi berkah
Tingkat pembangunankah yang memecahnya?
Saat kita tertidur dan yang lain bekerja
Saat kita berkeringat, bau dan mandeg
Dunia lain yang sejuk dingin bergelora tanpa henti
Mesin-mesin itukah yang menarik garis lurus itu?
Toh kita bisa cipta mesin kita sendiri
Bahkan yang lebih canggih
Menjadi pelanggar hak pikir daripada bodoh
Apakah strategi perang kita yang salah?
Dunia memang selalu menawarkan kesalahan
Agar kita bisa belajar menjadi lebih sempurna
Substitusi import, promosi eksport, industri berat, hybrid
Pola pikir kitakah yang keliru?
Merkantiliste berbisik dunia yang kejam dan bengis
Smith dan Ricardo berteriak jadilah spesialis!
Eyang List meratap lindungi anak-anak dan kaum lemah
Dimanakah kaki bangsaku sekarang?
Jauh dari deru mesin uap
Terlepas dari ikatan para naga asia dan raksasa pasifik
Menyentuh dunia hitam di belahan sana
Kenapa Eyang Marx sempat menghantui bangsaku?
Bagi sama rata sama rasa semua roti!
Gundahku, tapi roti itu harus ada dulu!
Tak bisa kita bagi roti jika dia tak pernah ada
Utara yang kaya dan Selatan yang berduka
Maju dan terbelakang
Berkuasa dan menghamba
Apakah karena kodratnya memang terbagi?
Laksana terbaginya siang dan malam
Lelaki perempuan
Lengkung dan garis lurus
Zone géographie-kah yang membaginya?
Tiap wilayah punya nasibnya sendiri
Harta warisan untuk keturunannya
Kutukan yang terkadang jadi berkah
Tingkat pembangunankah yang memecahnya?
Saat kita tertidur dan yang lain bekerja
Saat kita berkeringat, bau dan mandeg
Dunia lain yang sejuk dingin bergelora tanpa henti
Mesin-mesin itukah yang menarik garis lurus itu?
Toh kita bisa cipta mesin kita sendiri
Bahkan yang lebih canggih
Menjadi pelanggar hak pikir daripada bodoh
Apakah strategi perang kita yang salah?
Dunia memang selalu menawarkan kesalahan
Agar kita bisa belajar menjadi lebih sempurna
Substitusi import, promosi eksport, industri berat, hybrid
Pola pikir kitakah yang keliru?
Merkantiliste berbisik dunia yang kejam dan bengis
Smith dan Ricardo berteriak jadilah spesialis!
Eyang List meratap lindungi anak-anak dan kaum lemah
Dimanakah kaki bangsaku sekarang?
Jauh dari deru mesin uap
Terlepas dari ikatan para naga asia dan raksasa pasifik
Menyentuh dunia hitam di belahan sana
Kenapa Eyang Marx sempat menghantui bangsaku?
Bagi sama rata sama rasa semua roti!
Gundahku, tapi roti itu harus ada dulu!
Tak bisa kita bagi roti jika dia tak pernah ada
Make a comment Permalink
Dunia ketiga bersatulah!
Friday, May 27, 2005
Munculnya relasi-relasi dunia ketiga memuculkan dua problem penting, pertama, berkaitan dengan substansinya; kedua, berkaitan dengan metodenya.
Substansi relasi ini seharusnya dan harus selalu dinamis dan tidak statis. Memberikan ruh "pertarungan" pada tiap analisisnya.
Metodenya harus mempelajari karakter-karakter dunia ketiga dalam konteks global, sebuah usaha dan proses evolusi yang konstan, menjelaskan sebuah perjuangan.
Perjuangan melawan setiap penindasan yang tidak hanya secara formal, tapi juga imperialisme dalam bentuknya yang baru dan bermutasi. Pertarungan kuasa dan pendidikan terhadap sebuah negara "baru" di dunia ketiga. Kebebasan dalam artian sebenarnya dialamatkan kepada manusia seluruhnya, karena roti dan mawar memang ditujukan untuk mereka!
Kebebasan tidak hanya berhenti untuk kebebasan itu belaka, tapi untuk sebuah perjuangan bagi pembangunan dirinya. Menjadi berdaulat dalam arti yang hakiki, disegani dalam komunitas internasional, merdeka secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Kita, ya kita, dunia ketiga harus bersatu!
Menyatukan kembali kekuatan-kekuatan besar diri kita. Melihat kembali kebesaran dan keagungan sejarah dan warisan leluhur kita! Kita harus kembali menjadi menjadi tempat matahari bersemayam!
Kita harus mencerahkan gambar ambigu dalam lukisan kita di ruang dunia!
Kita harus saling tolong menolong, merajut kembali tali-tali retas yang hampir putus di antara kita dengan menurunkan egoisme, kesombongan dan ketakpedulian kita terhadap saudara kita di belahan bumi yang sama dengan kita! Dunia ketiga!
Atout yang bermimpi di depan kemuliaan pyramide, di puncak kemegahan borobudur, di pinggir kekokohan tembok besar Cina, di dalam ketakjuban Taj-Mahal, di tengah ketegaran sahara, di belakang kekayaan ladang petrol, di bawah ketakdziman negeri para nabi....
Substansi relasi ini seharusnya dan harus selalu dinamis dan tidak statis. Memberikan ruh "pertarungan" pada tiap analisisnya.
Metodenya harus mempelajari karakter-karakter dunia ketiga dalam konteks global, sebuah usaha dan proses evolusi yang konstan, menjelaskan sebuah perjuangan.
Perjuangan melawan setiap penindasan yang tidak hanya secara formal, tapi juga imperialisme dalam bentuknya yang baru dan bermutasi. Pertarungan kuasa dan pendidikan terhadap sebuah negara "baru" di dunia ketiga. Kebebasan dalam artian sebenarnya dialamatkan kepada manusia seluruhnya, karena roti dan mawar memang ditujukan untuk mereka!
Kebebasan tidak hanya berhenti untuk kebebasan itu belaka, tapi untuk sebuah perjuangan bagi pembangunan dirinya. Menjadi berdaulat dalam arti yang hakiki, disegani dalam komunitas internasional, merdeka secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Kita, ya kita, dunia ketiga harus bersatu!
Menyatukan kembali kekuatan-kekuatan besar diri kita. Melihat kembali kebesaran dan keagungan sejarah dan warisan leluhur kita! Kita harus kembali menjadi menjadi tempat matahari bersemayam!
Kita harus mencerahkan gambar ambigu dalam lukisan kita di ruang dunia!
Kita harus saling tolong menolong, merajut kembali tali-tali retas yang hampir putus di antara kita dengan menurunkan egoisme, kesombongan dan ketakpedulian kita terhadap saudara kita di belahan bumi yang sama dengan kita! Dunia ketiga!
Atout yang bermimpi di depan kemuliaan pyramide, di puncak kemegahan borobudur, di pinggir kekokohan tembok besar Cina, di dalam ketakjuban Taj-Mahal, di tengah ketegaran sahara, di belakang kekayaan ladang petrol, di bawah ketakdziman negeri para nabi....
Make a comment Permalink
Mon Dieu, sauve-moi!
Friday, May 27, 2005
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari godaan iblis yang bersemayam di hati dan pikirku
Dari bisikan nafsu yang merendahkan imanku
Dari dia, mereka, kamu dan diriku
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari kemisikinan, kehinaan dan keingkaran
Dari kebodohan, kelemahan dan ketakutan
Dari sihir dan taman para syetan
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari godaan iblis yang bersemayam di hati dan pikirku
Dari bisikan nafsu yang merendahkan imanku
Dari dia, mereka, kamu dan diriku
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari kemisikinan, kehinaan dan keingkaran
Dari kebodohan, kelemahan dan ketakutan
Dari sihir dan taman para syetan
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari petaka yang tak berampun
Dari buruknya tulisan nasib
Dari umpatan mereka yang dengki
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari buruknya tulisan nasib
Dari umpatan mereka yang dengki
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari tempat pelarian selain diri-Mu
Dari kesyahduan mengingat selain diri-Mu
Dari kerinduan selain diri dan kekasih-Mu
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari kesalahan yang tak terselamatkan
Dari permasalahan yang tak terselesaikan
Dari harapan yang terkabulkan
Mon Dieu, sauve-moi!
Dari kesyahduan mengingat selain diri-Mu
Dari kerinduan selain diri dan kekasih-Mu
Sang Pecinta aku berlindung kepada-Mu...
Dari kesalahan yang tak terselamatkan
Dari permasalahan yang tak terselesaikan
Dari harapan yang terkabulkan
Mon Dieu, sauve-moi!
Comment (1) Permalink
Google Modules
| Previous Page | Next Page |